Feeds:
Posts
Comments

Banyak kawan yang bertanya mengapa saya tidak berkomentar tentang PilGub Bali di lini masa medsos, sebagaimana yang saya lakukan ketika Pilpres dan PilGub Jakarta silam. Meski diikuti oleh dua pasang kandidat, yang pada umumnya memantik polaritas pilihan, hajatan Bali saat ini masih saja ‘adem-ayem’. Mengapa demikian?

Setidaknya, ada empat tesis yang bisa saya kemukakan yang menjadi penyebab fenomena yang tidak biasa ini. Continue Reading »

Terkait dengan aksi penyanderaan oleh napi teroris di MAKO Brimob dan pengeboman di beberapa gereja di Surabaya dan sekitarnya (12-14/05/2018), kami Akademisi Muda Bali (AMUBA) mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut:
1. Mengutuk keras kedua aksi yang tidak bermoral tersebut dan mengecam segala bentuk dukungan baik langsung ataupun tidak langsung yang diberikan kepada para teroris tersebut,
2. Menyampaikan duka cita yang mendalam kepada para korban dan segenap keluarganya, Continue Reading »

Terkejut! Itulah kesan saya ketika mengetahui petisi “Ahok for Bali” yang saya gulirkan menjadi trending topik twitter secara nasional. Terlepas dari keterkejutan saya, saya memahami mengapa hal ini bisa terjadi.

Disamping karena faktor Ahok yang media darling, peran buzzer pendukung uthopia khilafah memainkan peran penting. Kelompok ini berkepentingan untuk menjaga momentum dengan mengusung isu common enemy, dan sebagai alibi atas ‘dosa’ demokrasi yang telah mereka perbuat pada pilkada DKI Jakarta yang lalu. Continue Reading »

Dari sekian banyak sistem pengelolaan Negara, demokrasi diyakini sebagai pilihan terbaik. Namun demikian, demokrasi bukan berarti tanpa celah. Apa yang ditunjukkan pada PILKADA DKI hari ini merupakan contoh yang sahih ‘ketidakadilan’ demokrasi, bahwa ia tidak harus sejalan dengan nilai-nilai universal dan rasionalitas. Kemenangan tetap dapat diraih meski dengan cara yang irrasional bahkan brutal sekalipun. Continue Reading »

downloadBanyak kalangan berpendapat bahwa agama bukanlah tema/hal untuk diperdebatkan melainkan dilaksanakan. Dalam pandangan ini, agama bukanlah sebuah konsep pengetahuan melainkan jalan untuk menemukan Tuhan, yang dalam konsep Hindu disebut sebagai penyatuan Atman – Parama Atman.

Pandangan tersebut tentu tidak salah, namun tidak komprehensif, paling tidak jika dikaitkan dengan tiga  ranah peran agama; individu, sosial dan institusional. Pandangan bahwa agama ada dalam domain gelap yang hanya mengatur hubungan dasar individu dengan Tuhannya dalam perkembangannya banyak dijadikan pembenar atas keengganan (kita) dalam pencarian filosofi ke-Tuhanan, Sang Diri serta berbagai hal yang terkait denganNya. Akibatnya, sangat sedikit diantara kita – termasuk saya – menguasai konsep  fisolofi spiritual yang sahih, dalam hal ini filsafat keHinduan – ajaran yang saya warisi. Padahal, kajian filosofis ke-Tuhanan ini esensiil untuk menyokong bergulirnya peran agama ke domain yang berbeda; yakni sebagai sarana pencerahan masyarakat (sosial) melalui keteladanan dan edukasi. Continue Reading »

Image result for alat kesehatanMasih ingat ‘lengan robot’ Wayan Tawan dari Karangasem? Ia, tepat setahun lengan mekanis berbahan rongsokan karya Wayan Tawan menghiasi pemberitaan media nasional. Sontak, pro dan kontra pun mengiringi karya yang secara akademis termasuk dalam bidang teknologi biomedis tersebut, selama lebih dari enam bulan. Kunjungan pun deras mengalir; baik oleh pejabat pemerintahan, individu hingga lembaga penelitian baik dari dalam maupun luar negeri. Bagi Tawan, ekpos media yang luar biasa bisa jadi merupakan sebuah ‘berkah’. Namun dari perspektif kontemplasi akademik, karya tersebut bisa jadi sebuah satire yang mengkonfirmasi tentang keterbelakangan bidang teknologi biomedis di Indonesia. Continue Reading »

Image result for radicalism

Artikel ini telah dipublikasikan pada harian Bali Post:
http://balipost.com/read/artikel/2017/02/02/72717/radikalisme-dalam-dunia-akademis-sebuah-fenomena-paradoksal.html

Radikalisme dalam dunia pendidikan di Indonesia telah memasuki fase krusial. Hal ini dipertegas oleh pernyataan ketua Komnas HAM, Imdadun Rahmat, setelah bertemu Presiden Joko Widodo akhir tahun lalu. Secara historis, jejak ideologi garis keras ini pada dunia akademis di tanah air telah ada sebelum era reformasi. Laporan Litbang Departemen Agama tahun 1996 mencatat bahwa faham intoleran ini telah ada dan berkembang subur justru di kampus-kampus besar (UI, UGM, UnAir dan UnHas). Hal ini tidak terlepas dari pertarungan ideologi para alumni keempat kampus besar tersebut pada level praktis yang diwariskan kepada junior mereka yang masih ada di kampus.

Continue Reading »

Image result for radicalism

Dalam dua tahun ke belakang, elemen masyarakat Bali; adat, akademisi, pejabat, generasi muda, lay-person hingga pemuka agama terpolarisir oleh isu Teluk Benua. Saking akutnya isu tersebut, hingga kini hawa ketidakharmonisan tersebut masih dapat kita rasakan. Generalisasi terjadi demikian akut; orang yang sebatas mengail nafkah pada perusahaan yang terkait reklamasi kita jadikan musuh bersama – demikian juga sebaliknya. Continue Reading »

by Ernest Valea

reinkarnasiThe concept of reincarnation seems to offer one of the most attractive explanations of humanity’s origin and destiny. It is accepted not only by adherents of Eastern religions or New Age spirituality, but also by many who don’t share such esoteric interests and convictions. To know that you lived many lives before this one and that there are many more to come is a very attractive perspective from which to judge the meaning of life. On the one hand, reincarnation is a source of great comfort, especially for those who seek liberation on the exclusive basis of their inner resources. It gives assurance for continuing one’s existence in further lives and thus having a renewed chance to attain liberation. On the other hand, reincarnation is a way of rejecting the monotheistic teaching of the final judgment by a holy God, with the possible result of being eternally condemned to suffer in hell. Another major reason for accepting reincarnation by so many people today is that it seems to explain the differences that exist among people. Some are healthy, others are tormented their whole life by physical handicaps. Some are rich, others at the brink of starvation. Some have success without being religious; others are constant losers, despite their religious dedication. Eastern religions explain these differences as a result of previous lives, good or bad, which bear their fruits in the present one through the action of karma. Therefore reincarnation seems to be a perfect way of punishing or rewarding one’s deeds, without the need of accepting a personal God as Ultimate Reality. Continue Reading »

mememPagi itu, di penghujung tahun 1977, seorang wanita kurus paruh usia yang sedang hamil tua, ‘merayap’ menyebrangi sebuah tebing. Di kepalanya, tergeletak sebuah sebuah baskon berkarat berisi ketela rebus, kopi bubuk, secuil gula pasir serta termos plastik yang berisikan air panas. Tangan kanannya yang gontai mencengkram akar kayu yang menjalar di tebing, sementara kaki kirinya berusaha menggapai onggokan tanah di seberang. Ia, rupanya ibu ini sedang membawakan sarapan ketela rebus untuk suaminya yang sedari pagi mencangkul di ladang mereka.

Continue Reading »