Feeds:
Posts
Comments
Indian Wisdom & Science: J C Bose, Cosmology, Matter Mind ...
source: http://www.esamskriti.com

Peradaban Weda telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Tidak ada yang dapat memprediksi secara pasti kapan sebenarnya tradisi Wedanta ini dimulai. Ada yang menyatakan dari jaman awal Iron Age (500-1500 tahun sebelum Masehi) hingga 12.500 tahun sebelum Masehi. Apapun itu, Wedanta tetaplah satu mutiara hasil dari olah rasa para resi untuk terkoneksi dengan alam yang lebih besar, dan telah menjadi sumber pengetahuan bagi umat manusia hingga kini. 

Dalam kaitan tersebut, saya mencoba membagi fungsi Wedanta bagi umat manusia, yang saya namai sebagai *Fungsi 5i Wedanta*. Pembagian ini semata-mata hanya untuk mempermudah pemilahan fungsi Wedanta yang saya temui, bukan untuk membuat teori baru, karena itu adalah domain para ahli Weda. 

Sesungguhnya fungsi 5i ini merupakan analogi dari Panca Maya Kosa sebagaimana yang diajarkan Wedanta. Kelima fungsi 5i Wedanta tersebut melingkupi:

Satu, Ika

Dalam fungsi ini, Wedanta dipergunakan manusia (misalkan para yogi) sebagai pengetahuan utama tentang penyatuan, bersatunya Atman dengan Brahman. Dalam fungsi ini, Wedanta memberikan tuntunan atau pengetahuan kepada manusia untuk dapat berkomunikasi atau bahkan menyadari bahwa ‘ia adalah itu’, yang esa.

Kedua, Inspirasi.

Dalam fungsi ini, Wedanta dipergunakan sebagai sumber inspirasi, atau lham bagi para pencari kebenaran oleh berbagai etnis dan kelompok ras manusia yang tersebar dari belahan dunia. Sebagai sumber inspirasi, prinsip Wedanta tidak bisa diperdebatkan karena ia menjadi sumber Ilham atau Penggerak terdalam dari individu melakukan sebuah karma yoga.

Tiga, ilmu pengetahuan.

Dalam fungsi Weda sebagai ilmu pengetahuan, Wedanta dapat diperdebatkan, dipergunjingkan oleh para pencari kebenaran untuk menemukan sisi kebenaran atau ketidakbenaran berdasarkan komparasi kognitif maupun empirik dengan metodelogi saintifik. Sebagai sumber ilmu pengetahuan, Wedanta juga bukan Hanna dimiliki oleh orang Hindu apalagi golongan atau kelompok tertentu. Ia adalah samudra luas yang mengalirkan air yang sama melalui jutaan kali dan mengisi ribuan danau di seluruh muka bumi. Tentu, dalam fungsi ini dan diatasnya, Wedanta bisa dinikmati oleh jutaan anak bangsa dari berbagai budaya di seluruh dunia. Dalam fungsi pula inilah, Wedanta dianalisa, dicincang, dibuktikan atau dibantah kebenarannya berdasarkan olah citarasa fikiran manusia. Scientific Wedanta Community bergerak pada ranah ini. 

Keempat, Idiologi

Sebagai sebuah idiologi, Wedanta difahami, diterima kemudian dilaksanakan sebagai sebuah sebuah faith atau belief system. Dalam kapasitasnya sebagai idiologi ini pula, Wedanta memberi arahan secara garis besar apa yang hendak atau tidak dilakukan oleh manusia. Dalam fungsi ideologis ini, Wedanta melahirkan sistem keperyaan dan agama-agama di seluruh Dunia. Setidaknya ada 4 agama yang bersumber pada Wedanta: Hindu, Jainisme, Budha, Taoisme. 

Lima, identitas

Wedanta sebagai identitas telah mengalami spesialisasi (penyempitan makna) bahkan peyorasi (penurunan makna) ke dalam kotak kotak yang lebih kecil, dalam hal ini agama. Agama membedakan satu kelompok entitas dengan masyarakat lainnya, biasanya dalam konteks relasi warga negara dan negara. 

Dalam hal inilah definisi tentang agama, Tuhan yang terbatas, komparasi dan diskursus kekurangan dan kelebihan agama-agama akan muncul. Perdebatan pada ranah ini akan sertamerta menautkan Wedanta sebagai idiologi, bukan lagi sebagai ilmu pengetahuan apalagi tingkat diatasnya. Rasionalitas yang merupakan produk intelektualitas (dijalankan oleh neo cortex pada otak) pun tidak berfungsi secara optimal. Sebaliknya, dominasi fungsi otak akan diambil alih oleh limbik sistem (mamalian brain), atau bahkan brain steam (reptilian brain) yang dimiliki oleh manusia.

Ruang Gerak SVC

SVC bergerak pada ranah ketiga, Wedanta sebagai ilmu pengetahuan. Dalam ranah ini Wedanta, sudah barang tentu bisa dinikmati atau diakses oleh semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Menguji kesahihan Wedanta atau praktek turunannya (dalam korelasi dengan praktek keagamaan) pada domain ini disarankan bahkan diwajibkan untuk mengetahui korelasi empirik antara ilmu pengetahuan yang ada pada Wedanta dengan ilmu pengetahuan kontemporer yang dilakoni atau dilakukan melalui ranah Sains. Tentu, tidak semua bisa dirasionalisasi. Namun demlkian, pemahaman dalam konteks energi dan ilmu pengetahuan yang ‘lebih halus’ yang melahirkan kebijaksanaan, juga merupakan bentuk advance dari rasio tersebut.

Batasan ini perlu diperjelas, untuk menghindari kerancuan batasan bahasan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan dalam satu komunitas, tak terkecuali grup ini. Bahasan ini penting agar setiap orang bisa fokus untuk menaati batasan bahasan yang ditetapkan, tidak melebar ke ranah lain, atau apalagi menimbulkan hal-hal yang bersifat emosional, karena menyentuh ke ranah identitas tadi.

Batasan Bahasan dalam Diskusi SVC

Kami menyadari bahwa pembahasan tentang permasalahan umat (Hindu) misalnya, tentu bukan domain dari bahasan Wedanta sebagai ilmu pengetahuan, melainkan bagian dari identitas (agama) yang melekat pada Wedanta, dalam hal ini Hindu. Bagi anggota yang telah ‘melampaui’ batasan identitas, diskusi pada ranah ini tentu berakibat pada rasa kurang nyaman. Hal ini bisa difahami, tentu bukan karena mereka tidak peduli dengan permasalahan keumatan, melainkan memang konsen dan bahasan yang berbeda ini memerlukan domain yang berbeda pula. 

Namun demikian, bahasan-bahasan tentang keumatan adalah realita dan oleh karenanya perlu diberi ruang yang proporsional pula. 

Nah, sejauh mana proporsi ini diijinkan? 

Sebagai seorang demokrat (yang bukan orang SBY he…), kami perlu melempar diskusi tentang cakupan dan batasan domain yang ditolerir dalam group ini. 

Hal ini perlu kita buat, agar setiap orang dalam group merasa nyaman dan mendapat manfaat bergabung dalam group ini. 

Cantih

Sadwika Salain | Kasinoman SVC

Note: SVC = Scientific Vedanta Community

Keris Carita Keprabon Luk 11 with Pamor Pedaringan Kebak made ...
Keris

Setelah vakum selama lebih dari satu bulan, akhirnya kita bisa menggelar Webinar Series kembali (Sabtu, 1 Juli 2020), dengan menghadirkan topik ‘Keris” dan narsum Ide Bhawati Mahendrajaya dan Bpk AA Waisnawa Putra. 

Tema ini kami pilih diantara pilihan topik yang sedang panas akhir akhir ini, polemik ‘cerita lama bersemi kembali’: Hare Krisna versus Hindu Bali. Tentu, kita semua patut merasa prihatin atas berkembangnya polemik klasik tersebut ditengah pentingnya perjuangan bersama – baik sebagai Bangsa maupun elemen Hindu – dalam mengantisipasi krisis global; baik ekonomi, keamanan (terkait meningkatnya konflik di Laut China Selatan), maupun bidang geopolitik. Harus ada keikhlasan dan pemahaman bersama sebagai sebuah keluarga Hindu dalam mengatasi hal yang tidak esensial tersebut. PHDI, sebagai lembaga tertinggi umat diharapkan peranaktifnya dalam memediasi sekaligus mengakkan disiplin organisasi. Semoga dapat segera diselesaikan ke akar permasalahannya, sehingga tidak akan terjadi lagi di masa datang.

Terlepas dari maraknya permintaan topik ini (polemik Hare Krshna) diangkat dalam diskusi SVC,  kami merasa bahwa domain SVC tidak pada wilayah tersebut. Kami tetap harus memfokuskan segala energi dan perhatian pada wilayah pengetahuan Vedanta berikut korelasinya dengan konteks pemahaman kontemporer. Oleh karenanya, kami menghadirkan diskusi “Keris” tersebut dengan berbagai pertimbangan, sebagai berikut.

Sebagai warisan adiluhung budaya Nusantara, Keris merupakan produk dari penerapan teknologi tingkat lanjut (advanced) di masa lalu. Teknologi metalurgi (utamanya metal alloys dan komposit berbahan meteorit) yang digunakan untuk membuat sebuah Keris sungguh maju, jauh melampaui jamannya (jika kita tilik dengan kemajuan teknologi metalurgi modern). Teknologi metalurgi Nusantara – demikian saya menyebutnya – telah berkembang sebelum abad ke delapan, di mana para empu berhasil memadukan berbagai lapisan logam dari ratusan bahkan ribuan lapis bahan yang berbeda, ratusan tahun sebelum berkembangnya teknologi metallurgi (metal alloy) diterapkan di Eropa atau belahan dunia lain. Sebagai informasi, pada masa Majapahit, Jepang baru bisa membuat senjata yang berbasis pada material tunggal saja, bukan alloy (campuran logam).

Ini tentu menarik perhatian kita, pada khususnya para sarjana geologi dan teknik mesin (ilmu logam) yang bersentuhan dengan teknologi metalurgi kontemporer. Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana teknologi tingkat lanjut tersebut bisa dimiliki oleh para empu bahkan jauh sebelum teknologi Metallurgy Aloys ditemukan atau dipraktekkan oleh negara negara maju? Siapa sesungguhnya yang mengajari para empu untuk meleburkan berbagai jenis metal dengan titik didih yang sangat tinggi, hingga 10 ribu derajat? Bagaimana mendeteksi keberadaan material meteorite, bahan dasar sebuah Keris, di masa lalu? Ini adalah sekelumit pertanyaan yang bisa kita ajukan dari lusinan pertanyaan yang mungkin muncul. Pertanyaan tersebut pada akhirnya akan membawa kita pada diskursus yang lebih luas. 

General Discourse

Diskusi tentang Keris ini dan teknologi metalurgi hanyalah sebagai pembuka awal cakrawala kita – anak muda Indonesia – tentang teknologi modern di masa lampau yang pernah dimiliki oleh leluhur kita. Selanjutnya, diskusi ini juga menjadi inisiasi pengetahuan baru akan keberadaan kekayaan alam Nusantara, selain yang kita ketahui selama ini seperti emas, perak, perunggu dan lain sebagainya. Ada banyak sekali kandungan metal dari gugus tanah jarang (rare earth metals) seperti  Monazite, Xenotime, Allanite yg jamak digunakan sebagai materi micro chip dan processor berbagai perangkat modern ataupun dalam bidang lain yang diperlukan di masa datang dalam mendukung Industrialisasi 5.0.

Selain untuk tujuan pengetahuan mineral dan kekayaan alam Nusantara, diskusi “Keris” ini juga sebagai pembuka jalan bagi ‘munculnya’ discourse tentang yang benda-benda bersejarah Nusantara dalam periode 10 tahun belakangan ini. Sebagaimana diketahui, dalam dekade terakhir ini, banyak sekali ‘muncul’ (emerge) benda-benda purbakala berbahan meteorite dari berbagai daerah di Indonesia. Selain dari bahasan kepurbakalaannya (exoteric), bahasan tentang bioenergi (esoteric) benda-benda tersebut patut diberi ruang diskursus yang sepantasnya – utamanya dalam bingkai bahasan sains (elektromagnetic fields), yang selama ini masih dianggap pseudo-science.  

Muara dari diskusi series ini diharapkan terbukanya ruang apresiasi akan keagungan warisan Nusantara dan kearifan ketimuran (Eastern Wisdom) yang selama ini terkubur dalam derasnya arus kiblat ilmu pengetahuan yang Western-minded. 

Pada sesi selanjutnya, kami akan angkat tema, Atlantis from from the East (karya Prof Aryo Santos) dengan menelusuri jejak Sundalandia bersama (Bpk Dhani Irwanto), dalam kaitannya dengan Human Conciousness Awakening (Brain Plasticity dalam konteks Catur Yuga/Precession of the Equinox (Sadwika). Silahkan ditunggu tanggal tayangnya dan semoga diskusi nanti menarik dan menambah pengetahuan kita semua. Jika ada saran dan masukan terhadap usulan tema diatas, mohon disampaikan via group ataupun japri.

Sebagai penutup, saya ucapkan rasa terimakasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada admin group, moderator dan host diskusi yang telah mempersiapkan dan memandu diskusi Keris dengan sangat baik. Secara pribadi saya memohon maaf kepada rekan-rekan semua karena tidak selalu bisa menemani diskusi group secara intens sebagaimana yang seharusnya. Terimakasih atas permaklumannya.

Rahajeng Purnama. 

Sadwika Salain

Banyak kawan yang bertanya mengapa saya tidak berkomentar tentang PilGub Bali di lini masa medsos, sebagaimana yang saya lakukan ketika Pilpres dan PilGub Jakarta silam. Meski diikuti oleh dua pasang kandidat, yang pada umumnya memantik polaritas pilihan, hajatan Bali saat ini masih saja ‘adem-ayem’. Mengapa demikian?

Setidaknya, ada empat tesis yang bisa saya kemukakan yang menjadi penyebab fenomena yang tidak biasa ini. Continue Reading »

Terkait dengan aksi penyanderaan oleh napi teroris di MAKO Brimob dan pengeboman di beberapa gereja di Surabaya dan sekitarnya (12-14/05/2018), kami Akademisi Muda Bali (AMUBA) mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut:
1. Mengutuk keras kedua aksi yang tidak bermoral tersebut dan mengecam segala bentuk dukungan baik langsung ataupun tidak langsung yang diberikan kepada para teroris tersebut,
2. Menyampaikan duka cita yang mendalam kepada para korban dan segenap keluarganya, Continue Reading »

Terkejut! Itulah kesan saya ketika mengetahui petisi “Ahok for Bali” yang saya gulirkan menjadi trending topik twitter secara nasional. Terlepas dari keterkejutan saya, saya memahami mengapa hal ini bisa terjadi.

Disamping karena faktor Ahok yang media darling, peran buzzer pendukung uthopia khilafah memainkan peran penting. Kelompok ini berkepentingan untuk menjaga momentum dengan mengusung isu common enemy, dan sebagai alibi atas ‘dosa’ demokrasi yang telah mereka perbuat pada pilkada DKI Jakarta yang lalu. Continue Reading »

Dari sekian banyak sistem pengelolaan Negara, demokrasi diyakini sebagai pilihan terbaik. Namun demikian, demokrasi bukan berarti tanpa celah. Apa yang ditunjukkan pada PILKADA DKI hari ini merupakan contoh yang sahih ‘ketidakadilan’ demokrasi, bahwa ia tidak harus sejalan dengan nilai-nilai universal dan rasionalitas. Kemenangan tetap dapat diraih meski dengan cara yang irrasional bahkan brutal sekalipun. Continue Reading »

downloadBanyak kalangan berpendapat bahwa agama bukanlah tema/hal untuk diperdebatkan melainkan dilaksanakan. Dalam pandangan ini, agama bukanlah sebuah konsep pengetahuan melainkan jalan untuk menemukan Tuhan, yang dalam konsep Hindu disebut sebagai penyatuan Atman – Parama Atman.

Pandangan tersebut tentu tidak salah, namun tidak komprehensif, paling tidak jika dikaitkan dengan tiga  ranah peran agama; individu, sosial dan institusional. Pandangan bahwa agama ada dalam domain gelap yang hanya mengatur hubungan dasar individu dengan Tuhannya dalam perkembangannya banyak dijadikan pembenar atas keengganan (kita) dalam pencarian filosofi ke-Tuhanan, Sang Diri serta berbagai hal yang terkait denganNya. Akibatnya, sangat sedikit diantara kita – termasuk saya – menguasai konsep  fisolofi spiritual yang sahih, dalam hal ini filsafat keHinduan – ajaran yang saya warisi. Padahal, kajian filosofis ke-Tuhanan ini esensiil untuk menyokong bergulirnya peran agama ke domain yang berbeda; yakni sebagai sarana pencerahan masyarakat (sosial) melalui keteladanan dan edukasi. Continue Reading »

Image result for alat kesehatanMasih ingat ‘lengan robot’ Wayan Tawan dari Karangasem? Ia, tepat setahun lengan mekanis berbahan rongsokan karya Wayan Tawan menghiasi pemberitaan media nasional. Sontak, pro dan kontra pun mengiringi karya yang secara akademis termasuk dalam bidang teknologi biomedis tersebut, selama lebih dari enam bulan. Kunjungan pun deras mengalir; baik oleh pejabat pemerintahan, individu hingga lembaga penelitian baik dari dalam maupun luar negeri. Bagi Tawan, ekpos media yang luar biasa bisa jadi merupakan sebuah ‘berkah’. Namun dari perspektif kontemplasi akademik, karya tersebut bisa jadi sebuah satire yang mengkonfirmasi tentang keterbelakangan bidang teknologi biomedis di Indonesia. Continue Reading »

Image result for radicalism

Artikel ini telah dipublikasikan pada harian Bali Post:
http://balipost.com/read/artikel/2017/02/02/72717/radikalisme-dalam-dunia-akademis-sebuah-fenomena-paradoksal.html

Radikalisme dalam dunia pendidikan di Indonesia telah memasuki fase krusial. Hal ini dipertegas oleh pernyataan ketua Komnas HAM, Imdadun Rahmat, setelah bertemu Presiden Joko Widodo akhir tahun lalu. Secara historis, jejak ideologi garis keras ini pada dunia akademis di tanah air telah ada sebelum era reformasi. Laporan Litbang Departemen Agama tahun 1996 mencatat bahwa faham intoleran ini telah ada dan berkembang subur justru di kampus-kampus besar (UI, UGM, UnAir dan UnHas). Hal ini tidak terlepas dari pertarungan ideologi para alumni keempat kampus besar tersebut pada level praktis yang diwariskan kepada junior mereka yang masih ada di kampus.

Continue Reading »

Image result for radicalism

Dalam dua tahun ke belakang, elemen masyarakat Bali; adat, akademisi, pejabat, generasi muda, lay-person hingga pemuka agama terpolarisir oleh isu Teluk Benua. Saking akutnya isu tersebut, hingga kini hawa ketidakharmonisan tersebut masih dapat kita rasakan. Generalisasi terjadi demikian akut; orang yang sebatas mengail nafkah pada perusahaan yang terkait reklamasi kita jadikan musuh bersama – demikian juga sebaliknya. Continue Reading »