Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Politik’ Category

Terkait dengan Pilpres, banyak status kawan saya menyatakan kurang lebih begini:”siapapun yang menang, nasib kita tetap tidak berubah’, ‘apa sih yang akan di dapat kl si Bowo atau si Joko yang menang?’…

Saya memberi apresiasi yang tinggi apapun yang menjadi dasar pemikiran dan passion kawan-kawan saya. Kenyataannya, tidak semua orang tertarik pada politik. Saya pun tidak mempunyai keinginan untuk mempengaruhi apalagi menarik mereka berfikir seperti ‘saya’ dalam hal ini. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Mangku Pastika dan Sudikerta menganjurkan pada warganya agar memilih capres dengan rasional, bukan emosional. Sungguh saya tidak faham apa yang dimaksud dengan ‘rasio’ dalam hal ini. Paling tidak, ada tiga common sense saya yang tidak nyambung dengan rasio ala Pastika-Sudikertha.

Pertama, mereka berdua adalah pemimpin formal Bali yang mayoritas penduduknya Hindu. Mereka bukan hanya sebagai pemimpin daerah yang harus memajukan daerahnya, namun juga harus melindungi ideologi warganya terhadap segala upaya dari kelompok yang tidak menginginkan Indonesia menjadi ‘rumah’ bagi orang Hindu, pluralisme Indonesia dan sekaligus Pancasila sebagai ideologi negara. Prabowo mungkin tidak menginginkan pergantian asas negara ini, namun ia tidak bisa menjadi seorang yang ‘suci dalam debu’. Ingat, kepentingan pragmatisnya untuk bisa menjadi presiden tidak mungkin bisa ‘menang’ atas kepentingan ideologis para pendukungnya yang didominasi oleh Islam garis keras. Mereka dengan lantang menyerukan penentangan atas sekularisme, plularisme dan juga Pancasila. Target kelompok ini jelas; memperbanyak Perda dengan Syariah yang pada akhirnya berujung pada pergantian ideologi negara. (Baca: Fatwa haram bagi Umat Islam untuk memilih paket 1, 10 ‘syarat’ dukungan FPI pada Prabowo dll). (more…)

Read Full Post »

Sebelum bernama Bangladesh, negara ini dikenal sebagai Pakistan Timur dan menjadi  bagian dari India sejak kemerdekaannya diproklamirkan pada tahun 1947. Setelah melaui proses perjuangan fisik dan politik yang tidak mudah, sejak tahun 1971 Pakistan Timur menjadi negara merdeka dengan nama Bangladesh. Meski sebagian besar penduduknya Muslim (89%), para pemimpin Bangladesh yang dimotori oleh Sheikh Mujibur Rahman mendeklarasikan kemerdekaan negaranya – tanggal 26 Maret 1971 – dengan bentuk negara sekuler, bukan negara agama. (more…)

Read Full Post »

Isu agama yang digunakanan sebagai dasar meraih kemenangan oleh kedua kubu (Pilpres) patut disesalkan. Ada 3 dasar sudut pandang mengapa legitimasi dasar agama tidak benar dan harus ditolak dalam berbagai isu yang menyangkut pengelolaan negara – temasuk pilpres kali ini*.

Dari perspektif konstitusi, jelas. Bahwa setiap warga bangsa sama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan (Pasal 27 ayat 1). Sehingga isu calon presiden tidak beragama Islam atau keturunan Kristen tidak layak dipilih, sangat tidak relevan.

Dari sudut pandang historis, founding fathers kita yang dipelopori Bung Karno bersepakat untuk membentuk sebuah negara bangsa yang kemudian dikenal dengan nama Indonesia ini berdasar atas kesamaan rumpun, budaya dan adat Istiadat – bukan agama. Kita bukan Pakistan (dan India) yang sejarah berdirinya didasarkan perbedaan agama para penduduknya (Hindu dengan Islam). Pun bukan Singapura yang dibentuk berdasarkan perbedaan etnis warganya (China dan Melayu). Dari sudut pandang historis, isu perbedaan agama dalam politik jelas bukan sesuatu yang ingin diwariskan oleh leluhur kita. (more…)

Read Full Post »

(Akan ada banyak rekan-rekan yang berbeda pilihan politik dengan serta merta menolak opini saya ini. Namun, tolong lupakan kepentingan klan partai sesaat dan mari berfikir beyond the box untuk kepentingan yang lebih besar).

Ada banyak alasan dan catatan sejarah yang membuat kita – sebagai komponen bangsa minoritas – perlu khawatir dengan kelompok PraHaRa. Berbagai kepentingan bercampur aduk jadi satu, mulai dari barisan sakit hati hingga kepentingan strategis. Kelompok kedua yang perlu diberikan atensi serius. SDA menyatakan bahwa pilpres kali ini merupakan pertarungan antara kelompok vs nasionalis. “Islam” yang mana? PKB ada di pihak Jokowi. Meski tidak didukung PBNU secara organisasi, mereka tetap memiliki basis masa tradisonal terbesar di Jawa. Yang dimaksud SDA adalah Islam garis keras. Ini yang mengkhawatirkan kita. Ingat, kelompok ini akan terus mencari celah untuk mengembalikan pemberlakuan piagam Jakarta. Jika ditelisik dari kedekatan Prabowo dengan Ahmad Sumargono ketua KisDi di era 90-an, momentum ini merupakan reuni perjuangan dan saat ini merupakan momentum yang tepat bagi mereka – setelah perjuangan dalam 15 tahun di parlemen kandas. (more…)

Read Full Post »

Baladewa berang dan berkehendak membunuh Bima ketika ia memukul pangkal paha Duryadana yang – menurut aturannya – dilarang dilakukan pada perang Gada. Khrisna menyela kakaknya dengan :

“Jika memang karena kesahalan ini Bima pantas dihukum, maka aku sendiri yang akan melakukannya, Kak. Tapi kesalahan Duryadana yang jauh lebih berat harus mendapat hukuman yang setimpal pula. Janganlah Kakak mau merubah hasil akhir dari sebuah permainan yang tidak engkau mainkan. Ketika perang akan dimulai, bukankah Kakak sendiri menolak untuk berpihak dan lebih memilih ber-tirta yatra ke tempat suci? Kebenaran tidak berada diawang-awang melainkan dalam hidup yang kita sedang kita alami saat ini. Meski kita tidak menemukan pilihan yang sempurna, tidak memilih bukanlah Dharma”, begitu kurang lebih Khrisna menutup ucapan sekaligus nasihat pada kakaknya. (more…)

Read Full Post »