Feeds:
Posts
Comments

Image result for radicalism

Dalam dua tahun ke belakang, elemen masyarakat Bali; adat, akademisi, pejabat, generasi muda, lay-person hingga pemuka agama terpolarisir oleh isu Teluk Benua. Saking akutnya isu tersebut, hingga kini hawa ketidakharmonisan tersebut masih dapat kita rasakan. Generalisasi terjadi demikian akut; orang yang sebatas mengail nafkah pada perusahaan yang terkait reklamasi kita jadikan musuh bersama – demikian juga sebaliknya. Continue Reading »

by Ernest Valea

reinkarnasiThe concept of reincarnation seems to offer one of the most attractive explanations of humanity’s origin and destiny. It is accepted not only by adherents of Eastern religions or New Age spirituality, but also by many who don’t share such esoteric interests and convictions. To know that you lived many lives before this one and that there are many more to come is a very attractive perspective from which to judge the meaning of life. On the one hand, reincarnation is a source of great comfort, especially for those who seek liberation on the exclusive basis of their inner resources. It gives assurance for continuing one’s existence in further lives and thus having a renewed chance to attain liberation. On the other hand, reincarnation is a way of rejecting the monotheistic teaching of the final judgment by a holy God, with the possible result of being eternally condemned to suffer in hell. Another major reason for accepting reincarnation by so many people today is that it seems to explain the differences that exist among people. Some are healthy, others are tormented their whole life by physical handicaps. Some are rich, others at the brink of starvation. Some have success without being religious; others are constant losers, despite their religious dedication. Eastern religions explain these differences as a result of previous lives, good or bad, which bear their fruits in the present one through the action of karma. Therefore reincarnation seems to be a perfect way of punishing or rewarding one’s deeds, without the need of accepting a personal God as Ultimate Reality. Continue Reading »

mememPagi itu, di penghujung tahun 1977, seorang wanita kurus paruh usia yang sedang hamil tua, ‘merayap’ menyebrangi sebuah tebing. Di kepalanya, tergeletak sebuah sebuah baskon berkarat berisi ketela rebus, kopi bubuk, secuil gula pasir serta termos plastik yang berisikan air panas. Tangan kanannya yang gontai mencengkram akar kayu yang menjalar di tebing, sementara kaki kirinya berusaha menggapai onggokan tanah di seberang. Ia, rupanya ibu ini sedang membawakan sarapan ketela rebus untuk suaminya yang sedari pagi mencangkul di ladang mereka.

Continue Reading »

Terimakasih NU

Sedikitpun, saya tidak meragukan komitmen Nahdatul Ulama untuk menjaga empat pilar kebangsaan; Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI, karena sejatinya NU merupakan backbone dari berdirinya republik ini. Pendiri NU, KH Hasyim Ashari – pendiri NU – adalah satu diantara founding fathers bangsa yang telah menyepakati negara bangsa – bukan negara agama – seperti yang kita dapati di masa ini.

Kendati demikian, pernyataan eksplisit yang dikeluarkan oleh ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj hari ini tentang rekomendasi pembubaran ormas radikal adalah ‘sesuatu’ banget dan  makin membuat saya yang kebetulan menjadi komponen minoritas bangsa ini tidak merasa menjadi warga ‘penumpang’ di negeri ini.

Sebagaimana diketahui, hari ini di hadapan Presiden RI, KH Said Aqil ‘memohon’ pembubaran ormas yang berpotensi untuk memecah belah warga bangsa dan tidak menginginkannya Pancasila sebagai ideologi negara.

Pernyataan ‘keras’ ini tidak lepas dari akumulasi kemuakan kelompok silent majority seperti NU dan komponen bangsa lainnya dalam menghadapi claim kelompok radikal yang jumlahnya sesungguhnya kecil namun ‘berisik’. Pernyataan ini juga merupakan dukungan kepada pemerintah untuk tidak ragu lagi dalam mengambil tindakan tegas sebelum hal yang lebih buruk terjadi di negeri ini.

Bagaimana Muhamadiyah dan elemen minoritas lainnya…apa aksi kalian?

Riuh rendah politik tanah air seakan menelan momentum berharga ini, Hari Guru Nasional. Lupa, karena memang ini tidak seksi bagi media sehingga ta banyak diliput. Demikian pula oleh perhatian saya yang kadang on membaca berita nasional, kadang juga tidak. Continue Reading »

Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat mengejutkan dunia. Serangkaian aksi penolakan yang berujung pada kerusuhan berbau rasis mewarnai seantero negeri yang dikenal sebagai moyangnya demokrasi tersebut; Los Angles, Colorado, Seatle, Washinton DC, San Francisco hingga San Diego. Rupanya, kemenangan Trump ini belum bisa diterima oleh sebagian penduduk Amerika, bukan hanya karena sosoknya yang kontroversial, melainkan pula pada banyaknya gagasan yang ia dengungkan saat kampanye tidak dapat diterima dalam akal sehat banyak kalangan. Diantaranya, dua yang paling insane adalah larangan warga Islam berpergian ke Amerika Serikat, pembangunan tembok pembatas dengan Mexico. Continue Reading »

Falsafah Jawa sangat mewarnai kepemimpinan Presiden Jokowi. Gerak langkah yang ia tujukan tidak dapat dimaknai secara harfiah, melainkan memerlukan analisa lebih holistik.

Langkah Jokowi yang tidak menerima perwakilan demonstran menyiratkan beberapa pesan, yang meski samar, namun jelas dapat kita baca:

  • Pertama, demonstran bukanlah wakil umat Islam. Representasi umat Islam nasional adalah NU, Muhamaddiyah dan MUI telah beliau temui pada tanggal 1 November. Hal ini menyiratkan bahwa bagi Presiden, demo 411 merupakan aspirasi yang tidak mewakili Umat Islam. Pertanyaannya, mewakili siapa? Kita bisa trace back dari siapa-siapa yang tidak ditemui Presiden dalam roadshow-nya. Presiden ke-6 SBY merupakan salah satu diaantara kelompok yang terlibat dalam pertarungan menuju DKI-1 yang tidak beliau temuai. Hal ini pula yang membuat SBY geram dan ‘terjebak’ dengan mengeluarkan statemen ‘Lebaran Kuda’. Reaksi yang over-sensi ini justru dilihat sebagian masyarakat bahwa SBY ‘bermain’ dalam aksi 411 tersebut.
  • Kedua, strategi Presiden untuk menggagalkan ‘tujuan’ demo secara halus. Presiden tahu jika sasaran tembak dari demonstasi kali ini bukanlah Ahok, melainkan dirinya. Hal ini tercermin dari pertanyaan Fahri Hamzah, Habib Rizik hingga Amien Rais. Dengan absensi Presiden tersebut, ‘tujuan utama’ dari demo telah gagal total.
  • Setelah ini, Presiden dipastikan akan merapatkan barisan baik untuk mengatisipasi hal serupa terjadi maupun ‘menjewer’ telinga para petualan politik yang bermain api atas nama Aksi Bela Agama. Semoga saja berakhir damai.